Dia Bukan Perempuan Pilihan


10 Januari 2019

Sebuah Cerita Pendek


Pixabay

Berawal dari sebuah perkenalan,...


Rentang waktu yang tak begitu lama, hampir saja terjalin hubungan yang tidak biasa. Thank's God, karena hal itu tidak sempat terjadi.

Kalau saja bisa memutar waktu,dia berharap hal itu tidak akan pernah terjadi, berfikir sedikit sajapun tidak.

Berawal dari  pertemanan ,dia tidak mau menyebutnya, dia yang saat itupun baru saja tiba tidak menemui keanehan apapun, semua biasa saja, wajar saja seperti apa adanya, tidak juga terjadi apa-apa.

Entahlah secara tidak sengaja berkenalan dengannya,karena niat awalnya adalah baik tentu saja dia menerimanya.

Tak ada juga yang aneh ataupun istimewa,semua biasa saja. Sampai suatu ketika,dia merasa ada yang sedikit berbeda. Entahlah apa hanya perasaannya saja, dia merasa sesuatu hal yang tidak biasa.

Pertama kali seseorang itu menuliskan kata yang buat sebagian perempuan mungkin merasa seperti di surga.Tetapi dia sendiri belum menyadarinya sampai suatu ketika pada suatu kesempatan seseorang itu mungkin entah disengaja atau tidak, memberi sedikit perhatiannya padanya.Apakah hanya dia saja yang merasa.. Entahlah. 

 Atau memang sudah sifatnya seperti itu dia juga tidak mengetahuinya. "Sedikit" saja tidak lebih, mungkin agak sedikit lebay ya yang dia rasa, tapi memang begitu adanya.

Sampai pada suatu ketika tiba dititik ,dia merasa ada yang berbeda, entah hanya dia sajakah yang merasa ataukah seseorang itu yang memang pintar memainkan kata, hampir saja dibuat terperdaya.

Seseorang itu memang pintar bermain kata dan bersandiwara. 

Awalnya dia sendiripun tidak merasakan apa-apa sampai suatu ketika dia membaca pada sebuah media , ternyata seseorang ini telah memberi sedikit perhatian yang dia sendiri tidak pernah menyadarinya. Membaca beberapa kalimat yang sempat di tuliskannya, tapi pada saat itu dia sendiri tidak terlalu memperhatikannya.

Yah karena memang terlalu cuek atau terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga luput memperhatikannya.

Dari sana bermula,seseorang itu memberi sedikit perhatiannya, mungkin dia saja yang merasa berlebihan,tapi entahlah,dia sendiri memang merasa ada yang sedikit berbeda,padahal dia tahu itu semua dusta. 

Sampai suatu ketika dia membuka sebuah media dan melihat ada suatu hal yang tidak beres, mungkin instingnya sebagai perempuan berbicara.
.
Dia melihat disana ada juga kalimat yang hampir sama yang diucapkan pada seorang perempuan lainnya, dan itu membuatnya merasa tak berdaya, sebaiknya akhiri segera sebelum asa ini melambung tinggi
Tak perlu menunggu waktu terlalu lama.

Dia juga seorang manusia biasa yang memiliki kepekaan dan juga bisa merasakan,nalurinya berbicara seperti apa rasanya jika seseorang berdusta, sementara yang lain  tidak mengetahuinya. Sakit hati dan kecewa jika dia mengetahuinya. Dia juga bukanlah manusia yang sempurna,tak mau berkubang dalam duka. Cukup sampai di sini saja.

Tapi Tuhan maha baik, dia menyadarkannya untuk tidak terlena, karena dia juga tahu itu tidak mungkin terjadi,niat untuk mengecewakan orang lain pun tidak pernah terfikirkan. 
Karena dia tahu pasti akan sakit rasanya bila luka itu menganga.

Tidak perlu memikirkannya , entah rayuan apalagi yang akan dilancarkan lelaki itu pada perempuan lainnya. Membaca dan melihat kata-katanya saja dia merasa ingin muntah dan marah. Tapi buat apa memikirkannya. Toh seseorang itu bukan siapa-siapa, benar kata yang pernah dia baca, harta ,tahta dan wanita.Seseorang itu bagai musang berbulu domba.

Terima kasih Tuhan telah menjaganya dari mulut buaya, sehingga tidak terlanjur ke lembah dosa. Tak perlu meratap apalagi menangisinya, karena baginya seseorang itu bukan siapa-siapa. Hanya sebutir debu yang hampir singgah di tangannya, dan dia tidak mau debu itu mengotori tangannya apalagi tubuhnya.

Tuhan andaikan waktu bisa terulang, rasanya tak mau berteman dengannya.

Cerita ini hanya sekedar tulisan belaka.


Salam Santun

2 Responses to "Dia Bukan Perempuan Pilihan"

  1. Tulisan yang bagus, tetap semangat menulis dan terus memberi inspirasi bagi orang lain

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel