3 Februari 2019

Relung Hati Yang Terdalam

Februari 2019

Cerpen

Ini ke tiga kali nyoba "belajar" nulis cerpen, semoga ada yang mau baca dan harapannya sih sukaaaa..mohon kritik dan sarannya .


Sore yang masih tetap gerimis,..entah kenapa akhir-akhir ini hujan masih setia datang, padahal sudah memasuki awal tahun, barangkali karena mendekati bulan februari mungkin ya...? 

Entah juga, biasanya memang mendekati februari hujan cenderung sering tiba, apalagi akan segera datang tahun baru imlek.

Hujan,... gadis ini masih suka sekali dengan hujan, apalagi sebentar lagi bulan februari. Walau dia tidak pernah merayakannya sekalipun. 

Kata orang-orang sih bulan februari itu apalagi tanggal 14 februari, banyak orang-orang yang merayakannya.

Katanya sih bulan kasih sayang, tapi entahlah. Kalo baginya  sih semua hari itu sama saja, gak ada bedanya. Semua berjalan seperti biasanya, nothing special.

pixabay

Seperti sore ini, gadis itu melihat di balik kaca jendela, butir-butir gerimis jatuh bergulir membasahi kaca jendela....airnya luruh..satu persatu.

Dipandangi luruhnya air hujan yang menempel di kaca jendela, tanpa berkedip.
Seperti lukisan embun yang menempel didinding.

Baca juga  Mawar merah pemberiannya
Tapi ini terlihat begitu lembut dan syahdu. Dengan perasaan agak sedikit malas beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Lukisan Tuhan memang begitu indah dan nyata.

Sebenarnya dari dalam relung hati yang terdalam ingin rasanya menyudahi hubungan ini. Semua cobaan dan masalah yang datang bertubi-tubi, membuat perasaan gadis itu agak mulai goyah.

Entahlah mengapa semua datang begitu tiba-tiba, rasanya dia hendak menenggelamkan saja wajahnya dibalik bantal. Bergulat dengan semua fikirannya. Perasaannya seperti terkoyak, dia merasa lelah. Tak lagi sanggup berfikir jernih.

Dia sudah cukup lama menjalin hubungan dengan seseorang, hampir satu tahun lamanya. Namun selalu saja ada jarak dan cara pandang yang berbeda diantara keduanya. 

Entahlah apakah hubungannya masih bisa diselamatkan atau tidak. Rasanya hampir menyerah.

Perbedaan menjadi pemicunya, apalagi diantara mereka berdua adanya keyakinan yang berbeda

Prinsip yang berbeda. Cukup sulit memang, walaupun diantara keduanya masih terlihat saling kasih, namun keduanya tidak dapat menutupi kekecewaan. Rasanya susah untuk diselesaikan.

Terlalu rumit. Memang sudah sejak awal mereka bertemu, mereka sudah mengetahui adanya perbedaan itu. Namun hanya karena cinta yang begitu kukuh membuat mereka mencoba bertahan.

Perjalanan kasih selama setahun belakangan dirasa bagaikan berjalan di tempat. Maju salah, mundurpun salah. Bagaikan makan buah simalakama.
Yang ada hanya keributan dan keributan.

Tidak bisa saling mengalah, padahal keduanya masih ada rasa sayang, terlihat dari cara mereka saling memandang. Walaupun ada rasa perih namun mereka berdua mencoba untuk bertahan.

Entahlah sampai hari ini gadis ini masih tidak bisa melupakan begitu saja cerita diantara keduanya. Jalinan kasih yang meskipun diwarnai lika-liku, namun masih juga terselip rasa bahagia walaupun cuma sedikit.

Bulan-bulan pertama mereka dekat, tidak begitu menganggu hubungan yang terjalin, namun begitu hubungan menuju ke hal yang lebih serius, baru mereka berdua menyadarinya. Semua seperti berputar, akhirnya bagaikan bom waktu yang tinggal meledak.

Tidak ada yang dapat saling menyalahkan. Toh keduanya juga saling menyadari sedari awal bahwa memang keyakinan mereka berbeda
.
Namun rasa sayang lebih dominan ketimbang hal lain. Mengesampingkan perbedaan. Dia mencoba mengingat sejenak apa yang sudah pernah dilalui keduanya.

Serasa buntu semua jalan, karena tak ada yang saling mau mengalah. Sudah mencoba semua jalan, namun tetap saja tidak ketemu cara yang tepat.

Mungkin mereka tidak bisa seperti pasangan yang lainnya, yang lebih siap. Bisa melakukan hubungan resmi di luar sana.

Namun itu tidak pernah mereka lakukan. Karena toh percuma saja dipaksakan, karena keduanya memang sadar adanya jurang perbedaan.

Mata gadis itu semakin sembab menahan tangis. Rasanya sudah kering airmata.
Hatinya serasa tercekat, dia hanya bisa terdiam memandang wajahnya dicermin.

Dicobanya mencubit lengannya....terasa sakit...berarti ini memang nyata, hatinya terasa sakit, seakan tak mau percaya. Yang tersisa cuma kenangan yang indah namun menyakitkan.
Keduanya tak cukup kuat untuk bertahan.

Hubungan manis yang terjalin diantara keduanya selama setahun ini hanya berakhir sia-sia. Tidak ada lagi canda, tidak ada lagi tawa yang menghiasi perjalanan kasih mereka.

Semua terasa gelap, berputar, entah sampai kapan keduanya bisa bertahan.
Sedari awal memang mereka sudah merasa, jika hubungan manis yang terjalin terlalu dipaksakan.

Sedari awal mereka berdua juga sudah merasa jika ini hanya akan berakhir sia-sia. Namun keduanya mencoba untuk tetap bertahan. Siapa tahu ada yang bisa mengalah, siapa tahu keduanya bisa saling bertahan, siapa tau....

Namun hanya pergulatan kata-kata saja. Dan akhirnya keduanya pun menyerah. Percuma dilanjutkan karena tidak ada yang mau saling mengalah.

Mereka berdua tahu tidak ada yang mampu bertahan. Mereka berduapun tahu sejak awal memang adanya perbedaan. Mereka mencoba bertahan namun tembok perbedaan itu cukup kuat untuk dirubuhkan.

Yang tersisa kini cuma kenangan pahit. Entah sampai kapan lukanya bisa hilang, hanya waktu saja yang bisa menjadi penyembuhnya.

Mata gadis itu semakin sembab menahan tangis, bantalnya basah, hatinya terasa basah, kerongkongannya serasa tercekat, yang terdengar hanya suara rintik hujan yang menetes mengalir di jendela kaca.

Dilihatnya sekali lagi tetesan hujan itu, seperti air matanya, tumpah mengalir. 
Dan hanya suara denting jam yang berbunyi didalam kamarnya tak- tuk -tak -tuk...sunyi...sepi...

Entah sampai kapan rasa sakit ini akan hilang.


Salam santun







10 komentar:

  1. saya sukanya novel, novel baswedan. sempet bertanya2 siapa sih yang nulis novel judulnya baswedan? viral banget di TV waktu itu. Tumben berita TV ngebahas NOVEL, emang masyarakatnya suka pada baca? hihihi

    Membaca cerpen diatas namun belum bisa berkomentar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Auk ah Si Novel yg atu mah,,ntar kena pasal......udh baca tapi kagak bs komentar, emang bacanya sambil mejem yak hi hi,...dirasain bukan sekedar dibaca aja bapake...kan biasanya jg suka buat cerpen wk wk

      Hapus
  2. Udah bagus sih ini idenya. Tinggal dikonsepin aja, misal sebelum ditulis dibuat poin-poin ceritanya ingin mengalir dari mana sampai mana.
    Yang penting jg jangan berhenti nulis, obatnya cuma nulis dan nulis terus. Jangan lupa baca cerpen2 orang lain dan ambil pelajaran dari cerpennya. Satu lagi, jangan putus atas penilaian orang, tetap terima kritik dan saran buat pembelajaran :) Lanjutkan deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims mas Irsyad atas masukkannya... Smg next bs lbh baik lagi.. Amiin

      Hapus
  3. Saya dari www.papaaffan.online berkunjung balik.. Cerita kak Heni bagus.. Saya sering kali ketika hujan merasakan kesyahduhan yang tak jelas,setelah syahduhansemakin larut dalam cerita dan dikala hujan aku baca ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip mas.. Sy jg prnh bc tulisannya... Saling suport aja yah.. Trims sdh membaca dn berkunjung 😊🙏

      Hapus
  4. Semangat mbake, cerpennya udah bagus kok, bahasanya juga, mungkin cuma perlu ditambah penjelasan masalahnya aja.
    Aku juga suka banget nulis cerpen tapi dulu, sekarang udah jarang karena lebih suka nulis artikel di blog😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya thx mba atas masukkannya yah.. Thx sdh beekunjung 😊


      Hapus