20 Februari 2019

UNPREDICTABLE LOVE

februari 2019

Cerpen

Sekilas
Masih tentang kasih sayang, walaupun harinya udah lewat, boleh dong sekedar berbagi tulisan tentang itu.

Yah what ever lah, aku mah gak ikutan, cuman sekedar berbagi tulisan ringan aja. Gak mesti ditanggapin kelewat serius, yang ada ntar malahan rame," peace " damai itu lebih indah deh


pixabay
Iya sepertinya sayang dan cinta itu terkadang bagai dua sisi mata uang, rasanya kalau sayang itu bisa ke semua orang deh dan makna nya lebih luas, sedangkan cinta juga adalah perasaan sayang, tapi biasanya bermuara ke seseorang saja ujung-ujungnya, iya enggak sih ?

Terkadang perasaan seperti itu datang begitu saja tanpa diundang, gak memandang kedudukan, gak melihat harta, kadang gak melihat status, masak seeh. Apa iya cinta seperti itu ?

Ditutupnya buku yang baru saja sempat dibacanya, baru beberapa lembar saja, tulisannya memang agak sedikit nyeleneh dan itu sudah cukup baginya untuk meresapi maknanya. Lelah dan sedikit ngantuk, akhirnya dia tertidur pulas.

Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 4 dini hari, bergegas dia bangun, duduk sejenak di tempat tidur. Pikirannya masih teringat dengan buku yang baru saja dibacanya semalam. 

Mungkin saat ini perasaan dan hatinya sedang berkecamuk. Entahlah apakah dia sedang jatuh hati kepada seseorang atau tidak, namun ada sedikit terbersit perasaan berbeda yang ada didalam hatinya.

Masih terngiang-ngiang dan terekam jelas peristiwa beberapa waktu yang silam, dan itu sudah cukup membuatnya tersadar bahwa cinta itu tidak harus memliki.
Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga baginya, dan dia tidak mau gegabah lagi untuk kedua kalinya.

Yah dia adalah seorang lelaki muda yang sedang jatuh hati, apakah perasaan ini salah atau benar dia tidak dapat menjawabnya. Yang dia tahu perasaan seperti ini mulai terasa sekitar akhir-akhir ini saja. Dia tidak berani berfikir lebih jauh , takut membayangkannya.

Hari menjelang subuh, dia beranjak dari tempat tidur dan mulai mengambil air wudhu, dibasuhnya seluruh tubuhnya dengan air dingin yang mengalir, sedingin hatinya yang kian nelangsa.

Ya dia adalah seorang mahasiswa di sebuah kampus, usianya masih cukup muda belia , baru beranjak dua puluh dua tahun saja. 

Namun sepertinya dia mulai menyukai seseorang, dan rasanya perasaan itu setiap hari semakin berkembang saja tanpa dia berhasil mencegahnya, apakah ini rasa suka ?

Lelaki muda itu menyukai  seorang dosen wanita yang sering dia jumpai disalah satu mata kuliah yang di ikutinya. Entahlah kenapa dia begitu mengagumi sosok sang dosen yang manis dan kemayu, cerdas pula.

Apakah ini sekedar rasa kagum saja ataukah memang dia sudah benar-benar jatuh hati kepada dosen tersebut, nama dosen itu adalah Tantri.

Padahal jika dilihat usianya mungkin sudah cukup dewasa, mungkin sekitar tiga puluh tahun.

Bah..kepalanya terasa berputar, Tuhan apakah aku salah bila aku mulai menyukai seseorang ? Pertanyaan demi pertanyaan bergelayut di kepalanya.

Mungkin jawabannya ada di dalam hati nuraninya , tidak bisa dipungkiri jika selama ini lelaki muda ini memendam perasaan sukanya secara diam-diam.

Selama ini memang dia selalu rajin berkomentar dan sering mencuri perhatian kepada sang dosen yang ayu. Entahlah atau dia hanya merasa kegeeran saja selama ini.

Kepribadiannya yang lincah, supel dan sedikit cuek membuatnya merasa senang berada dekat sang dosen. Dan itu tidak bisa ditutupinya.

Emang sih wajah ku gak jelek-jelek amat begitu mungkin pikirnya, ha ha maklum saja anak muda yang suka dengan hal-hal baru. Segala sesuatunya bergelora sesuai dengan jiwa mudanya.

Hari demi hari rasa sukanya kepada sang dosen yang ayu kian bertambah, dia pun tidak berusaha menghentikannya. Mengalir saja apa adanya.

Syukur selama ini nilai ujiannya masih lumayan, semenjak dia sering bertemu dengan bu dosen yang ayu membuatnya semakin rajin belajar dan memberi semangat tersendiri baginya.

Terkadang tingkah konyolnya yang suka usil keluar dengan sendirinya tanpa di sengaja, dia suka sekali memperhatikan sang dosen yang ayu dari kejauhan.
Entahlah apakah bu dosen Tantri ini menyadarinya atau tidak.

Kelakuannya yang suka pecicilan, membuat nya sering mencuri-curi perhatian dari sang dosen. Sepertinya sang dosen ayu juga meresponnya, sepertinya sih , dia hanya menduga-duga saja.

Kebersamaan antara murid dan dosen semakin dekat, hatinya bergelora dan berdegup bila dia berada dekat dengan bu dosen pujaannya.

Sampai teman-temannya sendiri menjulukinya sebagai seorang secret admirer. Ha ha entahlah, dirinya saat ini tidak bisa berfikir dengan jernih.

Sudah beberapa orang kawan menasehatinya untuk tidak terlalu hanyut dengan perasaannya, namun sang pemuda ini kekeh dengan pendiriannya.

Perasaan suka ini sudah terlanjur terukir didalam hatinya, susah untuk menghilangkan begitu saja. Dia sedang tidak menggunakan akal sehatnya.

Yang ada dalam fikirannya saat ini adalah...apakah aku salah jika aku terlanjur sayang dan suka dengan bu dosen pujaannya?

Masih diingatnya buku yang pernah dia baca beberapa saat yang lalu, bahwa cinta tidak mengenal kepada siapa dia akan berlabuh, tidak memandang harta, status, kedudukan, cinta bisa berlabuh pada siapapun tanpa kita bisa mencegahnya.

Dia hanya teringat dengan tulisan yang sempat dia baca. Jika aku memang benar-benar menyayangi dan menyukainya, bantu aku Tuhan...

Yah dia hanyalah seorang lelaki biasa yang juga berhak mencintai seseorang, hanya saja cinta dan rasa sukanya berlabuh pada sang dosen yang selama ini menjadi pembimbingnya. Apakah perasannya salah ?

Karena rasa sukanyalah yang membuat lelaki muda ini nekat mencari nomor telfon sang dosen ayu. Akhirnya dengan bersusah payah diapun mendapatkan nomor pribadi sang dosen dengan mencari tahu. Perjuangannya tidak berhenti sampai disini saja. Petualangan baru saja dimulai.

Malam itu lelaki muda ini nekat mengirimkan pesan kepada sang dosen yang ayu. Ditunggunya selama beberapa menit.... namun tidak ada balasan sama sekali. Dia mencoba bersabar,...sampai akhirnya suara handphonenya berbunyi.

Dengan tidak sabar di sambarnya handphonenya dan melihat siapakah yang sudah mengirimkannya pesan. Matanya tampak berbinar ketika dilihatnya di layar handphone nama sang dosen terpampang.

Dibukanya dengan perlahan, apakah isi pesan tersebut, wah..ternyata hanya pesan singkat biasa yang mengatakan jika sang dosen sedang tidak ada ditempat. Hatinya agak sedikit kecewa. Namun berusaha menghibur diri.

Tapi dia berusaha tetap tenang dan sabar, karena dia yakin tidak ada usaha yang berakhir sia-sia, ha ha. Jiwa mudanya masih bergelora, dia yakin sekali tampaknya.

Sampai pada keesokan hari ketika di kampus, dia kembali bertemu dengan bu dosen yang ayu, dan dia hendak bertanya, namun sepertinya kesempatan belum berpihak padanya. Sang dosen juga sepertinya tidak mengatakan apa-apa tentang pesan darinya semalam.

Beberapa hari telah terlewati, sampai akhirnya dia mencoba kembali nekat mengirimkan pesan yang kedua kepada bu dosen pujaannya.
Hatinya berdegup kencang ketika dia mengirimkan pesan singkat tersebut. Ada-ada saja usahanya.

Sebenarnya pesan tersebut biasa saja, tidak ada yang istimewa, karena isinya hanya menanyakan tentang tugas kuliah yang sempat tertunda saja.

Namun karena si pemuda sudah kadung suka, pesan yang dia buat seakan-akan menjadi penentu jawaban. 

Ternyata pesan tersebut berbalas, di bacanya pesan singkat di layar, disitu dijawab jika bu dosen yang ayu bisa membantu dan memberinya sedkit waktu untuk bisa berdiskusi. Wow hatinya menjadi girang tak karuan, akhirnya bu dosen ayu membalas pesannya. 

Padahal itu adalah pesan biasa, Tapi sudahlah baginya jawaban pesan itu sudah lebih dari cukup, setidaknya sang dosen sudah mau membalas pesannya, dan itu sudah cukup baginya.

Pertemuan pertama berlanjut di kediaman bu dosen yang ayu, rumahnya tampak asri dan teduh, seteduh dan seayu sang pemilik.

Pertemuan pertama bagi sang pemuda membuatnya seperti susah untuk konsentrasi, ha ha, hati dan fikirannya sedang tidak singkron tampaknya.

Kepinginnya bicara apa, yang keluar berbeda, seperti orang bodoh...tak bisa berkata apa-apa, padahal sifatnya tidaklah seperti itu.
Kesehariannya adalah pemuda yang supel dan lincah.

Tapi entah kenapa hari ini ketika sedang berhadapan dengan pujaan hatinya, lidahnya terasa kelu dan sulit berkata-kata. Ampun...kalau tidak demi sang dosen pujaan..rasanya dia hendak kabur saja dari hadapannya.

Tapi hatinya berkata tidak, dia tetap memilih bertahan, huff, akhirnya dia mencoba untuk memulai percakapan, dia bertanya seputar tugas kuliahnya yang sempat tertunda beberapa waktu yang lalu, sampai sang bu dosen ayu menjawab semua pertanyaannya.

Rasa penasaran terjawab sudah, ternyata bu dosen tidak seperti dalam bayangannya yang tegas didalam kampus, ternyata orangnya cukup ramah dan enak diajak bicara.

Sampai akhirnya keduanya saling bercerita diluar topik , pembicaraan keduanya tampak menyenangkan, tidak tanpak gurat kesal atau malas meladeninya bicara.
Baginya itu sudah lebih dari cukup. Dia menganggap jika dirinya sudah dewasa.

Rasa penasaran dan kekagumannya semakin bertambah. Sampai akhirnya pertemuan demi pertemuan berlanjut dan mereka mulai intens bertemu , kalau tidak dikampus ya dirumah bu dosen ayu.

Hubungan keduanya pun tampak akrab, memang tidak ada yang salah, karena rasa suka mengalir begitu saja didiri sang pemuda, toh benar seperti buku yang pernah dia baca sebelumnya bahwa cinta itu tidak mengenal perbedaan.

Sang pemuda tetap berusaha sopan dalam bertindak, dia hanya merasa perlu  untuk tetap bersikap hormat kepada bu dosen pujaannya, walaupun rasa suka mulai timbul pada dirinya.

Baginya dia harus tetap menjaga hubungan baik yang selama beberapa bulan ini sudah terjalin. Dia tidak mau gegabah dalam bertindak. Pantang untuk berlaku tidak sopan kepada sang pujaan apalagi itu adalah dosennya.

Sampai pada suatu ketika, dirinya sudah tidak dapat lagi berdusta, hatinya tidak lagi bisa membendung, ingin sekali berterus terang mengeluarkan isi hatinya, fikirannya sedang tidak tenang.

Tepat pada hari ini ditanggal 14 februari, dia nekat mendatangi bu dosen yang ayu, tanpa ragu dia mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya. Hatinya membuncah.
Berdegup kencang, menanti jawaban. Rasanya tidak ada yang salah.

Dia hanya butuh kepastian, itu saja. Rasa penasaran membuatnya tak sabar menunggu jawaban dari sang pujaan hati. Sampai akhirnya telinganya mendengar sendiri jawaban jujur dari sang dosen, yang mengatakan bahwa selama ini hubungan yang terjadi diantara mereka berdua hanyalah sebagai hubungan biasa saja antara seorang mahasiswa dan dosen, tidak lebih.

Bagai guntur disiang bolong, begitu dia mendengar jawaban dari sang dosen pujaan hati. Seakan dia tidak percaya, berarti selama ini usahanya sia-sia saja.
Sudah sangat jelas baginya bahwa ini adalah penolakan baginya.

Berarti hubungan yang selama beberapa waktu belakangan ini tidak lebih hanya fatamorgana saja. Dia hanya berhalusinasi terlalu tinggi.

Nasehat dari sahabatnya yang tidak dia pedulikan kembali dia ingat, sudah sering dia abaikan, hatinya terlanjur luka, jika sudah begini mau bilang apa ?

Ingin rasanya dia beranjak dari situ, namun kakinya terasa kaku, yang ada hanya gurat kecewa, ternyata selama ini bu dosen yang dia kagumi sudah memiliki pujaan hati, lebih parahnya lagi sudah bertunangan dan akan segera ke pelaminan. Dan itu sudah cukup baginya. 

Selama ini memang belum pernah bu dosen berbicara masalah itu, mungkin karena dia hanya menganggap hubungan mereka biasa saja, toh akhirnya dia mengetahui juga. Dia segera pulang, tubuhnya lunglay.

Kepalanya terasa sakit, dicobanya melihat sekeliling kamarnya, menatap ke langit-langit kamar. Hanya bisa termenung. Masih terngiang ditelinganya jawaban bu dosen pujaannya.

Baca   Mawar merah jambu pemberiannya
Baca   Dia bukan perempuan pilihan
Baca   Relung hati yang terdalam

Dia kembali teringat dengan buku yang pernah dia baca sebelumnya, belum semua sempat dia baca, hanya beberapa lembar saja, tetapi dia sudah terlalu cepat menyimpulkannya. Ternyata inilah jawabannya. Apakah dirinya terlalu naif dan bodoh ?

Tidak ada yang salah, barangkali saja cinta sedang tidak berpihak pada dirinya, barangkali dia hanya terlalu berharap banyak, barangkali ini bukan waktu yang tepat bagi dirinya, barangkali....barangkali... Begitu banyak kata-kata yang berputar dikepalanya.

Didengarnya lagu yang sedang berputar, lagu jadul kesayangannya

I can't fight this feeling any longer
And yet I'm still afraid to let it flow
What started out as friendship
Has grown stronger
I only wish I had the strength to let it show

I tell myself that I can't hold out forever
I said there is no reason for my fear
Cause I feel so secure when we're together You give my life direction
You make everything so clear

And even as I wonder 
I'm keeping you in sight
You're a candle in the window
On a cold dark winter's night
And I'm getting closer than I ever thought I might

And I can't fight this feeling anymore
I've forgotten what I started figting for.....


Dilihatnya kembali jam dinding dikamarnya, tepat pukul 4 subuh. Diambilnya segera air wudhu, membasuh perlahan seluruh tubuhnya, hanya rasa dingin yang terasa ditubuhnya, dia tak berani membayangkan lebih jauh, hanya doa saja yang bisa dia lakukan untuk saat ini, mencoba menata hatinya.

Itulah cinta, tidak dapat diprediksi kapan dia akan tiba dan kapan dia akan pergi, tidak memandang rupa, tidak memandang harta dan kedudukan, semua mengalir begitu saja tanpa kuasa membendungnya. 

Dan saat ini dia sedang mengalaminya. Hanya saja harapan tinggal harapan, tidak seindah yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Tidak seperti cerita romantis di novel-novel atau film drama romantis. Itu semua cuma cerita.

Namun satu yang pasti , cinta itu butuh kepastian dan kebahagiaan. Tidak seperti yang sedang terjadi pada dirinya, cintanya tak berbalas, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, ...unpredictable love...
Dan itu sudah cukup menyadarinya.

Salam santun








10 komentar:

  1. Wah, mbak suka menulis cerpen juga ya, menarik ceritanya tentang cinta yang nggak ada habisnya buat dibahas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Be ha hak... Cinta cintaan mba.... Ngasal aja ni mah. Hi hi 😁😁😂😂

      Hapus
  2. Setidaknya si mahasiswa uda berusaha, jadi tahu cara mendapatkan nomor pribadi orang lain.. Tulisannya menarik, ada lirik lagunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi hi cerpen ngasal tu mas.. Wew.. Iya biar dia puas wlupin skt ati... Thx sdh berkunjung. 😁😁

      Hapus
    2. Wkwk iya.. Next bisa dilanjutkan nih tulisannya..

      Hapus
    3. Iya maybe jd cerbung dunk alias cerita bersambung be ha ha 😁😂

      Hapus
  3. menarik diungkapkan, meskipun cerita sehari hari, …

    siip…. lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thx mas Tanza... Iya cerpen acakadut dn unfaedah jg norak 😁

      Hapus
  4. Kasihan. Cintanya bertepuk sebelah tangan....:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi hi.. Kacian... Namanya aja cerita sehari"..tp ni cm cerpen seadanya aja mba
      😁😁

      Hapus