Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

20 Februari 2019

UNPREDICTABLE LOVE

februari 2019

Cerpen

Sekilas
Masih tentang kasih sayang, walaupun harinya udah lewat, boleh dong sekedar berbagi tulisan tentang itu.

Yah what ever lah, aku mah gak ikutan, cuman sekedar berbagi tulisan ringan aja. Gak mesti ditanggapin kelewat serius, yang ada ntar malahan rame," peace " damai itu lebih indah deh


pixabay
Iya sepertinya sayang dan cinta itu terkadang bagai dua sisi mata uang, rasanya kalau sayang itu bisa ke semua orang deh dan makna nya lebih luas, sedangkan cinta juga adalah perasaan sayang, tapi biasanya bermuara ke seseorang saja ujung-ujungnya, iya enggak sih ?

Terkadang perasaan seperti itu datang begitu saja tanpa diundang, gak memandang kedudukan, gak melihat harta, kadang gak melihat status, masak seeh. Apa iya cinta seperti itu ?

Ditutupnya buku yang baru saja sempat dibacanya, baru beberapa lembar saja, tulisannya memang agak sedikit nyeleneh dan itu sudah cukup baginya untuk meresapi maknanya. Lelah dan sedikit ngantuk, akhirnya dia tertidur pulas.

Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 4 dini hari, bergegas dia bangun, duduk sejenak di tempat tidur. Pikirannya masih teringat dengan buku yang baru saja dibacanya semalam. 

Mungkin saat ini perasaan dan hatinya sedang berkecamuk. Entahlah apakah dia sedang jatuh hati kepada seseorang atau tidak, namun ada sedikit terbersit perasaan berbeda yang ada didalam hatinya.

Masih terngiang-ngiang dan terekam jelas peristiwa beberapa waktu yang silam, dan itu sudah cukup membuatnya tersadar bahwa cinta itu tidak harus memliki.
Dan itu adalah pelajaran yang sangat berharga baginya, dan dia tidak mau gegabah lagi untuk kedua kalinya.

Yah dia adalah seorang lelaki muda yang sedang jatuh hati, apakah perasaan ini salah atau benar dia tidak dapat menjawabnya. Yang dia tahu perasaan seperti ini mulai terasa sekitar akhir-akhir ini saja. Dia tidak berani berfikir lebih jauh , takut membayangkannya.

Hari menjelang subuh, dia beranjak dari tempat tidur dan mulai mengambil air wudhu, dibasuhnya seluruh tubuhnya dengan air dingin yang mengalir, sedingin hatinya yang kian nelangsa.

Ya dia adalah seorang mahasiswa di sebuah kampus, usianya masih cukup muda belia , baru beranjak dua puluh dua tahun saja. 

Namun sepertinya dia mulai menyukai seseorang, dan rasanya perasaan itu setiap hari semakin berkembang saja tanpa dia berhasil mencegahnya, apakah ini rasa suka ?

Lelaki muda itu menyukai  seorang dosen wanita yang sering dia jumpai disalah satu mata kuliah yang di ikutinya. Entahlah kenapa dia begitu mengagumi sosok sang dosen yang manis dan kemayu, cerdas pula.

Apakah ini sekedar rasa kagum saja ataukah memang dia sudah benar-benar jatuh hati kepada dosen tersebut, nama dosen itu adalah Tantri.

Padahal jika dilihat usianya mungkin sudah cukup dewasa, mungkin sekitar tiga puluh tahun.

Bah..kepalanya terasa berputar, Tuhan apakah aku salah bila aku mulai menyukai seseorang ? Pertanyaan demi pertanyaan bergelayut di kepalanya.

Mungkin jawabannya ada di dalam hati nuraninya , tidak bisa dipungkiri jika selama ini lelaki muda ini memendam perasaan sukanya secara diam-diam.

Selama ini memang dia selalu rajin berkomentar dan sering mencuri perhatian kepada sang dosen yang ayu. Entahlah atau dia hanya merasa kegeeran saja selama ini.

Kepribadiannya yang lincah, supel dan sedikit cuek membuatnya merasa senang berada dekat sang dosen. Dan itu tidak bisa ditutupinya.

Emang sih wajah ku gak jelek-jelek amat begitu mungkin pikirnya, ha ha maklum saja anak muda yang suka dengan hal-hal baru. Segala sesuatunya bergelora sesuai dengan jiwa mudanya.

Hari demi hari rasa sukanya kepada sang dosen yang ayu kian bertambah, dia pun tidak berusaha menghentikannya. Mengalir saja apa adanya.

Syukur selama ini nilai ujiannya masih lumayan, semenjak dia sering bertemu dengan bu dosen yang ayu membuatnya semakin rajin belajar dan memberi semangat tersendiri baginya.

Terkadang tingkah konyolnya yang suka usil keluar dengan sendirinya tanpa di sengaja, dia suka sekali memperhatikan sang dosen yang ayu dari kejauhan.
Entahlah apakah bu dosen Tantri ini menyadarinya atau tidak.

Kelakuannya yang suka pecicilan, membuat nya sering mencuri-curi perhatian dari sang dosen. Sepertinya sang dosen ayu juga meresponnya, sepertinya sih , dia hanya menduga-duga saja.

Kebersamaan antara murid dan dosen semakin dekat, hatinya bergelora dan berdegup bila dia berada dekat dengan bu dosen pujaannya.

Sampai teman-temannya sendiri menjulukinya sebagai seorang secret admirer. Ha ha entahlah, dirinya saat ini tidak bisa berfikir dengan jernih.

Sudah beberapa orang kawan menasehatinya untuk tidak terlalu hanyut dengan perasaannya, namun sang pemuda ini kekeh dengan pendiriannya.

Perasaan suka ini sudah terlanjur terukir didalam hatinya, susah untuk menghilangkan begitu saja. Dia sedang tidak menggunakan akal sehatnya.

Yang ada dalam fikirannya saat ini adalah...apakah aku salah jika aku terlanjur sayang dan suka dengan bu dosen pujaannya?

Masih diingatnya buku yang pernah dia baca beberapa saat yang lalu, bahwa cinta tidak mengenal kepada siapa dia akan berlabuh, tidak memandang harta, status, kedudukan, cinta bisa berlabuh pada siapapun tanpa kita bisa mencegahnya.

Dia hanya teringat dengan tulisan yang sempat dia baca. Jika aku memang benar-benar menyayangi dan menyukainya, bantu aku Tuhan...

Yah dia hanyalah seorang lelaki biasa yang juga berhak mencintai seseorang, hanya saja cinta dan rasa sukanya berlabuh pada sang dosen yang selama ini menjadi pembimbingnya. Apakah perasannya salah ?

Karena rasa sukanyalah yang membuat lelaki muda ini nekat mencari nomor telfon sang dosen ayu. Akhirnya dengan bersusah payah diapun mendapatkan nomor pribadi sang dosen dengan mencari tahu. Perjuangannya tidak berhenti sampai disini saja. Petualangan baru saja dimulai.

Malam itu lelaki muda ini nekat mengirimkan pesan kepada sang dosen yang ayu. Ditunggunya selama beberapa menit.... namun tidak ada balasan sama sekali. Dia mencoba bersabar,...sampai akhirnya suara handphonenya berbunyi.

Dengan tidak sabar di sambarnya handphonenya dan melihat siapakah yang sudah mengirimkannya pesan. Matanya tampak berbinar ketika dilihatnya di layar handphone nama sang dosen terpampang.

Dibukanya dengan perlahan, apakah isi pesan tersebut, wah..ternyata hanya pesan singkat biasa yang mengatakan jika sang dosen sedang tidak ada ditempat. Hatinya agak sedikit kecewa. Namun berusaha menghibur diri.

Tapi dia berusaha tetap tenang dan sabar, karena dia yakin tidak ada usaha yang berakhir sia-sia, ha ha. Jiwa mudanya masih bergelora, dia yakin sekali tampaknya.

Sampai pada keesokan hari ketika di kampus, dia kembali bertemu dengan bu dosen yang ayu, dan dia hendak bertanya, namun sepertinya kesempatan belum berpihak padanya. Sang dosen juga sepertinya tidak mengatakan apa-apa tentang pesan darinya semalam.

Beberapa hari telah terlewati, sampai akhirnya dia mencoba kembali nekat mengirimkan pesan yang kedua kepada bu dosen pujaannya.
Hatinya berdegup kencang ketika dia mengirimkan pesan singkat tersebut. Ada-ada saja usahanya.

Sebenarnya pesan tersebut biasa saja, tidak ada yang istimewa, karena isinya hanya menanyakan tentang tugas kuliah yang sempat tertunda saja.

Namun karena si pemuda sudah kadung suka, pesan yang dia buat seakan-akan menjadi penentu jawaban. 

Ternyata pesan tersebut berbalas, di bacanya pesan singkat di layar, disitu dijawab jika bu dosen yang ayu bisa membantu dan memberinya sedkit waktu untuk bisa berdiskusi. Wow hatinya menjadi girang tak karuan, akhirnya bu dosen ayu membalas pesannya. 

Padahal itu adalah pesan biasa, Tapi sudahlah baginya jawaban pesan itu sudah lebih dari cukup, setidaknya sang dosen sudah mau membalas pesannya, dan itu sudah cukup baginya.

Pertemuan pertama berlanjut di kediaman bu dosen yang ayu, rumahnya tampak asri dan teduh, seteduh dan seayu sang pemilik.

Pertemuan pertama bagi sang pemuda membuatnya seperti susah untuk konsentrasi, ha ha, hati dan fikirannya sedang tidak singkron tampaknya.

Kepinginnya bicara apa, yang keluar berbeda, seperti orang bodoh...tak bisa berkata apa-apa, padahal sifatnya tidaklah seperti itu.
Kesehariannya adalah pemuda yang supel dan lincah.

Tapi entah kenapa hari ini ketika sedang berhadapan dengan pujaan hatinya, lidahnya terasa kelu dan sulit berkata-kata. Ampun...kalau tidak demi sang dosen pujaan..rasanya dia hendak kabur saja dari hadapannya.

Tapi hatinya berkata tidak, dia tetap memilih bertahan, huff, akhirnya dia mencoba untuk memulai percakapan, dia bertanya seputar tugas kuliahnya yang sempat tertunda beberapa waktu yang lalu, sampai sang bu dosen ayu menjawab semua pertanyaannya.

Rasa penasaran terjawab sudah, ternyata bu dosen tidak seperti dalam bayangannya yang tegas didalam kampus, ternyata orangnya cukup ramah dan enak diajak bicara.

Sampai akhirnya keduanya saling bercerita diluar topik , pembicaraan keduanya tampak menyenangkan, tidak tanpak gurat kesal atau malas meladeninya bicara.
Baginya itu sudah lebih dari cukup. Dia menganggap jika dirinya sudah dewasa.

Rasa penasaran dan kekagumannya semakin bertambah. Sampai akhirnya pertemuan demi pertemuan berlanjut dan mereka mulai intens bertemu , kalau tidak dikampus ya dirumah bu dosen ayu.

Hubungan keduanya pun tampak akrab, memang tidak ada yang salah, karena rasa suka mengalir begitu saja didiri sang pemuda, toh benar seperti buku yang pernah dia baca sebelumnya bahwa cinta itu tidak mengenal perbedaan.

Sang pemuda tetap berusaha sopan dalam bertindak, dia hanya merasa perlu  untuk tetap bersikap hormat kepada bu dosen pujaannya, walaupun rasa suka mulai timbul pada dirinya.

Baginya dia harus tetap menjaga hubungan baik yang selama beberapa bulan ini sudah terjalin. Dia tidak mau gegabah dalam bertindak. Pantang untuk berlaku tidak sopan kepada sang pujaan apalagi itu adalah dosennya.

Sampai pada suatu ketika, dirinya sudah tidak dapat lagi berdusta, hatinya tidak lagi bisa membendung, ingin sekali berterus terang mengeluarkan isi hatinya, fikirannya sedang tidak tenang.

Tepat pada hari ini ditanggal 14 februari, dia nekat mendatangi bu dosen yang ayu, tanpa ragu dia mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya. Hatinya membuncah.
Berdegup kencang, menanti jawaban. Rasanya tidak ada yang salah.

Dia hanya butuh kepastian, itu saja. Rasa penasaran membuatnya tak sabar menunggu jawaban dari sang pujaan hati. Sampai akhirnya telinganya mendengar sendiri jawaban jujur dari sang dosen, yang mengatakan bahwa selama ini hubungan yang terjadi diantara mereka berdua hanyalah sebagai hubungan biasa saja antara seorang mahasiswa dan dosen, tidak lebih.

Bagai guntur disiang bolong, begitu dia mendengar jawaban dari sang dosen pujaan hati. Seakan dia tidak percaya, berarti selama ini usahanya sia-sia saja.
Sudah sangat jelas baginya bahwa ini adalah penolakan baginya.

Berarti hubungan yang selama beberapa waktu belakangan ini tidak lebih hanya fatamorgana saja. Dia hanya berhalusinasi terlalu tinggi.

Nasehat dari sahabatnya yang tidak dia pedulikan kembali dia ingat, sudah sering dia abaikan, hatinya terlanjur luka, jika sudah begini mau bilang apa ?

Ingin rasanya dia beranjak dari situ, namun kakinya terasa kaku, yang ada hanya gurat kecewa, ternyata selama ini bu dosen yang dia kagumi sudah memiliki pujaan hati, lebih parahnya lagi sudah bertunangan dan akan segera ke pelaminan. Dan itu sudah cukup baginya. 

Selama ini memang belum pernah bu dosen berbicara masalah itu, mungkin karena dia hanya menganggap hubungan mereka biasa saja, toh akhirnya dia mengetahui juga. Dia segera pulang, tubuhnya lunglay.

Kepalanya terasa sakit, dicobanya melihat sekeliling kamarnya, menatap ke langit-langit kamar. Hanya bisa termenung. Masih terngiang ditelinganya jawaban bu dosen pujaannya.

Baca   Mawar merah jambu pemberiannya
Baca   Dia bukan perempuan pilihan
Baca   Relung hati yang terdalam

Dia kembali teringat dengan buku yang pernah dia baca sebelumnya, belum semua sempat dia baca, hanya beberapa lembar saja, tetapi dia sudah terlalu cepat menyimpulkannya. Ternyata inilah jawabannya. Apakah dirinya terlalu naif dan bodoh ?

Tidak ada yang salah, barangkali saja cinta sedang tidak berpihak pada dirinya, barangkali dia hanya terlalu berharap banyak, barangkali ini bukan waktu yang tepat bagi dirinya, barangkali....barangkali... Begitu banyak kata-kata yang berputar dikepalanya.

Didengarnya lagu yang sedang berputar, lagu jadul kesayangannya

I can't fight this feeling any longer
And yet I'm still afraid to let it flow
What started out as friendship
Has grown stronger
I only wish I had the strength to let it show

I tell myself that I can't hold out forever
I said there is no reason for my fear
Cause I feel so secure when we're together You give my life direction
You make everything so clear

And even as I wonder 
I'm keeping you in sight
You're a candle in the window
On a cold dark winter's night
And I'm getting closer than I ever thought I might

And I can't fight this feeling anymore
I've forgotten what I started figting for.....


Dilihatnya kembali jam dinding dikamarnya, tepat pukul 4 subuh. Diambilnya segera air wudhu, membasuh perlahan seluruh tubuhnya, hanya rasa dingin yang terasa ditubuhnya, dia tak berani membayangkan lebih jauh, hanya doa saja yang bisa dia lakukan untuk saat ini, mencoba menata hatinya.

Itulah cinta, tidak dapat diprediksi kapan dia akan tiba dan kapan dia akan pergi, tidak memandang rupa, tidak memandang harta dan kedudukan, semua mengalir begitu saja tanpa kuasa membendungnya. 

Dan saat ini dia sedang mengalaminya. Hanya saja harapan tinggal harapan, tidak seindah yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Tidak seperti cerita romantis di novel-novel atau film drama romantis. Itu semua cuma cerita.

Namun satu yang pasti , cinta itu butuh kepastian dan kebahagiaan. Tidak seperti yang sedang terjadi pada dirinya, cintanya tak berbalas, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, ...unpredictable love...
Dan itu sudah cukup menyadarinya.

Salam santun








3 Februari 2019

Relung Hati Yang Terdalam

Februari 2019

Cerpen

Ini ke tiga kali nyoba "belajar" nulis cerpen, semoga ada yang mau baca dan harapannya sih sukaaaa..mohon kritik dan sarannya .


Sore yang masih tetap gerimis,..entah kenapa akhir-akhir ini hujan masih setia datang, padahal sudah memasuki awal tahun, barangkali karena mendekati bulan februari mungkin ya...? 

Entah juga, biasanya memang mendekati februari hujan cenderung sering tiba, apalagi akan segera datang tahun baru imlek.

Hujan,... gadis ini masih suka sekali dengan hujan, apalagi sebentar lagi bulan februari. Walau dia tidak pernah merayakannya sekalipun. 

Kata orang-orang sih bulan februari itu apalagi tanggal 14 februari, banyak orang-orang yang merayakannya.

Katanya sih bulan kasih sayang, tapi entahlah. Kalo baginya  sih semua hari itu sama saja, gak ada bedanya. Semua berjalan seperti biasanya, nothing special.

pixabay

Seperti sore ini, gadis itu melihat di balik kaca jendela, butir-butir gerimis jatuh bergulir membasahi kaca jendela....airnya luruh..satu persatu.

Dipandangi luruhnya air hujan yang menempel di kaca jendela, tanpa berkedip.
Seperti lukisan embun yang menempel didinding.

Baca juga  Mawar merah pemberiannya
Tapi ini terlihat begitu lembut dan syahdu. Dengan perasaan agak sedikit malas beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Lukisan Tuhan memang begitu indah dan nyata.

Sebenarnya dari dalam relung hati yang terdalam ingin rasanya menyudahi hubungan ini. Semua cobaan dan masalah yang datang bertubi-tubi, membuat perasaan gadis itu agak mulai goyah.

Entahlah mengapa semua datang begitu tiba-tiba, rasanya dia hendak menenggelamkan saja wajahnya dibalik bantal. Bergulat dengan semua fikirannya. Perasaannya seperti terkoyak, dia merasa lelah. Tak lagi sanggup berfikir jernih.

Dia sudah cukup lama menjalin hubungan dengan seseorang, hampir satu tahun lamanya. Namun selalu saja ada jarak dan cara pandang yang berbeda diantara keduanya. 

Entahlah apakah hubungannya masih bisa diselamatkan atau tidak. Rasanya hampir menyerah.

Perbedaan menjadi pemicunya, apalagi diantara mereka berdua adanya keyakinan yang berbeda

Prinsip yang berbeda. Cukup sulit memang, walaupun diantara keduanya masih terlihat saling kasih, namun keduanya tidak dapat menutupi kekecewaan. Rasanya susah untuk diselesaikan.

Terlalu rumit. Memang sudah sejak awal mereka bertemu, mereka sudah mengetahui adanya perbedaan itu. Namun hanya karena cinta yang begitu kukuh membuat mereka mencoba bertahan.

Perjalanan kasih selama setahun belakangan dirasa bagaikan berjalan di tempat. Maju salah, mundurpun salah. Bagaikan makan buah simalakama.
Yang ada hanya keributan dan keributan.

Tidak bisa saling mengalah, padahal keduanya masih ada rasa sayang, terlihat dari cara mereka saling memandang. Walaupun ada rasa perih namun mereka berdua mencoba untuk bertahan.

Entahlah sampai hari ini gadis ini masih tidak bisa melupakan begitu saja cerita diantara keduanya. Jalinan kasih yang meskipun diwarnai lika-liku, namun masih juga terselip rasa bahagia walaupun cuma sedikit.

Bulan-bulan pertama mereka dekat, tidak begitu menganggu hubungan yang terjalin, namun begitu hubungan menuju ke hal yang lebih serius, baru mereka berdua menyadarinya. Semua seperti berputar, akhirnya bagaikan bom waktu yang tinggal meledak.

Tidak ada yang dapat saling menyalahkan. Toh keduanya juga saling menyadari sedari awal bahwa memang keyakinan mereka berbeda
.
Namun rasa sayang lebih dominan ketimbang hal lain. Mengesampingkan perbedaan. Dia mencoba mengingat sejenak apa yang sudah pernah dilalui keduanya.

Serasa buntu semua jalan, karena tak ada yang saling mau mengalah. Sudah mencoba semua jalan, namun tetap saja tidak ketemu cara yang tepat.

Mungkin mereka tidak bisa seperti pasangan yang lainnya, yang lebih siap. Bisa melakukan hubungan resmi di luar sana.

Namun itu tidak pernah mereka lakukan. Karena toh percuma saja dipaksakan, karena keduanya memang sadar adanya jurang perbedaan.

Mata gadis itu semakin sembab menahan tangis. Rasanya sudah kering airmata.
Hatinya serasa tercekat, dia hanya bisa terdiam memandang wajahnya dicermin.

Dicobanya mencubit lengannya....terasa sakit...berarti ini memang nyata, hatinya terasa sakit, seakan tak mau percaya. Yang tersisa cuma kenangan yang indah namun menyakitkan.
Keduanya tak cukup kuat untuk bertahan.

Hubungan manis yang terjalin diantara keduanya selama setahun ini hanya berakhir sia-sia. Tidak ada lagi canda, tidak ada lagi tawa yang menghiasi perjalanan kasih mereka.

Semua terasa gelap, berputar, entah sampai kapan keduanya bisa bertahan.
Sedari awal memang mereka sudah merasa, jika hubungan manis yang terjalin terlalu dipaksakan.

Sedari awal mereka berdua juga sudah merasa jika ini hanya akan berakhir sia-sia. Namun keduanya mencoba untuk tetap bertahan. Siapa tahu ada yang bisa mengalah, siapa tahu keduanya bisa saling bertahan, siapa tau....

Namun hanya pergulatan kata-kata saja. Dan akhirnya keduanya pun menyerah. Percuma dilanjutkan karena tidak ada yang mau saling mengalah.

Mereka berdua tahu tidak ada yang mampu bertahan. Mereka berduapun tahu sejak awal memang adanya perbedaan. Mereka mencoba bertahan namun tembok perbedaan itu cukup kuat untuk dirubuhkan.

Yang tersisa kini cuma kenangan pahit. Entah sampai kapan lukanya bisa hilang, hanya waktu saja yang bisa menjadi penyembuhnya.

Mata gadis itu semakin sembab menahan tangis, bantalnya basah, hatinya terasa basah, kerongkongannya serasa tercekat, yang terdengar hanya suara rintik hujan yang menetes mengalir di jendela kaca.

Dilihatnya sekali lagi tetesan hujan itu, seperti air matanya, tumpah mengalir. 
Dan hanya suara denting jam yang berbunyi didalam kamarnya tak- tuk -tak -tuk...sunyi...sepi...

Entah sampai kapan rasa sakit ini akan hilang.


Salam santun







12 Januari 2019

Mawar Merah Jambu Pemberiannya

12 Januari 2019


Cerita Pendek






Pada suatu pagi, ketika kubuka jendela kamarku, kucium bau tanah yang masih basah. Segar.... dan aku selalu suka dengan hujan, karena suasana terlihat lebih syahdu. Semalam masih ku ingat dengan jelas ketika dia datang dengan baju yang sangat basah, datang kerumahku sambil membawa setangkai kecil mawar merah jambu.

Aku suka pemberiannya, walaupun mawar merah jambu yang ada digenggaman tanganku basah dan sedikit rapuh. Aku hargai jerih payahnya yang dengan bersusah payah datang berkunjug kerumahku, aku suka caranya, aku suka gayanya, apa adanya dengan baju yang masih basah, dia terlihat begitu gagah dan dewasa.

Aku suka melihat rambutnya yang ikal menutupi sebagian wajahnya, terlihat begitu mempesona, membuat hatiku sedikit berdegub menatapnya.
Ya...dia adalah kekasihku, hubungan kami memang belum berlangsung lama, baru menjelang lima bulan berselang. 

Baca juga   Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau  

Tapi dia begitu ramah dan menghargaiku apa adanya, menerima kekurangan dan kelebihanku apa adanya. Dia tahu kalau aku orang yang tidak suka berpura-pura.
Dan aku menyukai caranya menghargaiku sebagai kekasihnya.

Lelaki itu bernama Bara, seperti bara api yang menghangatkan dikala hujan. Tidak terlalu berlebihan jika aku menganggapnya sebagai pria idaman, karena dibalik wajahnya yang rupawan terselip juga sikapnya yang dewasa dan menawan.

Sosoknya mengajarkan aku untuk selalu bisa memahami kehidupan, menghargai adanya perbedaan dan yang penting kami seiman. Bersyukur aku bisa menjadi kekasihnya, karena masih kuingat saat pertama kali kami berjumpa dengan cara yang tidak biasa.

Kala itu aku sedang berjalan ditengah hiruk pikuknya kota yang ramai dan saat itu sedang  turun hujan. Aku baru saja mendapat kabar bahwa bapak dan ibuku hendak berkunjung ke tempat kost dimana aku tinggal. Karena ketidak tahuan ke dua orang tuaku ,dimana mereka hendak memberikan aku putri semata wayangnya sebuah kejutan.

Namun apa daya ternyata kedua orang tuaku malahan tersasar di kota yang cukup besar ini.
Yah aku memang memutuskan untuk tinggal dikota besar selesai kuliah. Disana aku belajar mandiri dan mendapat pekerjaan. Ternyata ada seorang pria yang dengan baik hati mengantarkan ke dua orang tuaku ke tempat kost Ku. 

Ya dia adalah  sosok yang kini menjadi kekasihku. Pertemuan pertama yang tidak disengaja akhirnya berlangsung sampai saat ini. Tidak terasa sudah lima bulan aku menjadi kekasihnya. Sikapnya yang sederhana membuatnya terlihat begitu istimewa.

Dia juga ternyata seseorang yang cukup romantis, dan aku tidak menyangka masih ada sosok seperti dia yang mau menerimaku apa adanya. Dia tinggal di kota yang sama denganku, dia berasal dari keluarga yang cukup ternama, namun sifatnya sangat sopan dan sederhana.

Baca juga    Dia Bukan Perempuan Pilihan

Tidak pernah aku mendengar dia membanggakan kedua orang tuanya yang kaya raya, begitu juga dengan titelnya. Meskipun dia sudah bergelar sarjana dan kaya tetapi sangatlah berbeda dengan penampilannya. Itu yang membuatku suka dengan sikapnya yang apa adanya, bukan karena ada apanya.

Terkadang dia rajin membawakan novel untukku atau buku cerita kesukaanku, karena aku menyukai novel yang romantis . Dia tahu kebiasaanku jika aku kadang suka menghabiskan waktu membaca novel pemberiannya. Dibalik sifat kekanak-kanakanku dia selalu membimbingku.
Dan dia begitu menghargaiku sebagai kekasihnya.

Dan aku suka dengan caranya, aku suka caranya menatapku, aku suka caranya mengelus rambutku. Penuh kasih dan romantis. Dan yang aku suka darinya dibalik segala kelebihan dan kekurangannya dia selalu rajin memberiku bunga. Seperti kali ini disaat hujan sore ini, kembali dia datang membawa bunga kesayanganku. Mawar merah jambu.

Kutanam bunga mawar pemberiannya dibawah jendela kamarku. Aku suka menatapnya . Apalagi dikala hujan seperti ini, kelopak mawar merah jambu hampir merekah. Pohonnya yang rimbun dan berwarna merah muda begitu indah .

Aku suka menatap bunga mawar  itu berlama-lama yang mengingatkanku pada sosoknya. Ya dia kekasihku yang sore ini tiba membawakanku setangkai bunga mawar merah jambu.

Kuingat betapa romantisnya dia dikala hujan tiba, bersusah payah datang menemuiku membawakan ku setangkai bunga dan kusuka  dia apa adanya, dia yang sederhana dan dewasa, tidak perlu mengumbar kata-kata mesra, dari cara memandangnya saja ku tahu ada ketulusan didalamnya.

Tanpa kepura-puraan, apa adanya, tampan wajahnya, dan aku suka wangi tubuhnya.
Ya lelaki itu kini sudah menjadi milikku. Dia yang bernama Bara, yang selalu rajin membawakanku bunga, mawar merah jambu  selalu ada dihatiku. 
Aku selalu suka hujan , aku selalu suka mawar pemberiannya, semuanya mengingatkanku pada sosoknya, lelaki itu bernama Bara.

Hanya sebuah cerita pendek.


Salam santun






Dia Bukan Perempuan Pilihan


10 Januari 2019

Sebuah Cerita Pendek


Pixabay

Berawal dari sebuah perkenalan,...


Rentang waktu yang tak begitu lama, hampir saja terjalin hubungan yang tidak biasa. Thank's God, karena hal itu tidak sempat terjadi.

Kalau saja bisa memutar waktu,dia berharap hal itu tidak akan pernah terjadi, berfikir sedikit sajapun tidak.

Berawal dari  pertemanan ,dia tidak mau menyebutnya, dia yang saat itupun baru saja tiba tidak menemui keanehan apapun, semua biasa saja, wajar saja seperti apa adanya, tidak juga terjadi apa-apa.

Entahlah secara tidak sengaja berkenalan dengannya,karena niat awalnya adalah baik tentu saja dia menerimanya.

Tak ada juga yang aneh ataupun istimewa,semua biasa saja. Sampai suatu ketika,dia merasa ada yang sedikit berbeda. Entahlah apa hanya perasaannya saja, dia merasa sesuatu hal yang tidak biasa.

Pertama kali seseorang itu menuliskan kata yang buat sebagian perempuan mungkin merasa seperti di surga.Tetapi dia sendiri belum menyadarinya sampai suatu ketika pada suatu kesempatan seseorang itu mungkin entah disengaja atau tidak, memberi sedikit perhatiannya padanya.Apakah hanya dia saja yang merasa.. Entahlah. 

 Atau memang sudah sifatnya seperti itu dia juga tidak mengetahuinya. "Sedikit" saja tidak lebih, mungkin agak sedikit lebay ya yang dia rasa, tapi memang begitu adanya.

Sampai pada suatu ketika tiba dititik ,dia merasa ada yang berbeda, entah hanya dia sajakah yang merasa ataukah seseorang itu yang memang pintar memainkan kata, hampir saja dibuat terperdaya.

Seseorang itu memang pintar bermain kata dan bersandiwara. 

Awalnya dia sendiripun tidak merasakan apa-apa sampai suatu ketika dia membaca pada sebuah media , ternyata seseorang ini telah memberi sedikit perhatian yang dia sendiri tidak pernah menyadarinya. Membaca beberapa kalimat yang sempat di tuliskannya, tapi pada saat itu dia sendiri tidak terlalu memperhatikannya.

Yah karena memang terlalu cuek atau terlalu sibuk dengan dunianya, sehingga luput memperhatikannya.

Dari sana bermula,seseorang itu memberi sedikit perhatiannya, mungkin dia saja yang merasa berlebihan,tapi entahlah,dia sendiri memang merasa ada yang sedikit berbeda,padahal dia tahu itu semua dusta. 

Sampai suatu ketika dia membuka sebuah media dan melihat ada suatu hal yang tidak beres, mungkin instingnya sebagai perempuan berbicara.
.
Dia melihat disana ada juga kalimat yang hampir sama yang diucapkan pada seorang perempuan lainnya, dan itu membuatnya merasa tak berdaya, sebaiknya akhiri segera sebelum asa ini melambung tinggi
Tak perlu menunggu waktu terlalu lama.

Dia juga seorang manusia biasa yang memiliki kepekaan dan juga bisa merasakan,nalurinya berbicara seperti apa rasanya jika seseorang berdusta, sementara yang lain  tidak mengetahuinya. Sakit hati dan kecewa jika dia mengetahuinya. Dia juga bukanlah manusia yang sempurna,tak mau berkubang dalam duka. Cukup sampai di sini saja.

Tapi Tuhan maha baik, dia menyadarkannya untuk tidak terlena, karena dia juga tahu itu tidak mungkin terjadi,niat untuk mengecewakan orang lain pun tidak pernah terfikirkan. 
Karena dia tahu pasti akan sakit rasanya bila luka itu menganga.

Tidak perlu memikirkannya , entah rayuan apalagi yang akan dilancarkan lelaki itu pada perempuan lainnya. Membaca dan melihat kata-katanya saja dia merasa ingin muntah dan marah. Tapi buat apa memikirkannya. Toh seseorang itu bukan siapa-siapa, benar kata yang pernah dia baca, harta ,tahta dan wanita.Seseorang itu bagai musang berbulu domba.

Terima kasih Tuhan telah menjaganya dari mulut buaya, sehingga tidak terlanjur ke lembah dosa. Tak perlu meratap apalagi menangisinya, karena baginya seseorang itu bukan siapa-siapa. Hanya sebutir debu yang hampir singgah di tangannya, dan dia tidak mau debu itu mengotori tangannya apalagi tubuhnya.

Tuhan andaikan waktu bisa terulang, rasanya tak mau berteman dengannya.

Cerita ini hanya sekedar tulisan belaka.


Salam Santun